'cici''s posts with tag: tips
Harmonis adalah perpaduan dari berbagai warna karakter yang membentuk
kekuatan eksistensi sebuah benda. Perpaduan inilah yang membuat warna
apa pun bisa cocok menjadi rangkaian yang indah dan serasi.
Warna hitam, misalnya, kalau berdiri sendiri akan menimbulkan kesan
suram dan dingin. Jarang orang menyukai warna hitam secara berdiri
sendiri. Tapi, jika berpadu dengan warna putih, akan memberikan corak
tersendiri yang bisa menghilangkan kesan suram dan dingin tadi.
Perpaduan hitam-putih jika ditata secara apik, akan menimbulkan kesan
dinamis, gairah, dan hangat.
Seperti itulah seharusnya rumah tangga dikelola. Rumah tangga
merupakan perpaduan antara berbagai warna karakter. Ada karakter pria,
wanita, anak-anak, bahkan mertua. Dan tak ada satu pun manusia di
dunia ini yang bisa menjamin bahwa semua karakter itu serba sempurna.
Pasti ada kelebihan dan kekurangan.
Nah, di situlah letak keharmonisan. Tidak akan terbentuk irama yang
indah tanpa adanya keharmonisan antara nada rendah dan tinggi. Tinggi
rendah nada ternyata mampu melahirkan berjuta-juta lagu yang indah.
Dalam rumah tangga, segala kekurangan dan kelebihan saling berpadu.
Kadang pihak suami yang bernada rendah, kadang isteri bernada tinggi.
Di sinilah suami-isteri dituntut untuk menciptakan keharmonisan dengan
mengisi kekosongan-kekosong an yang ada di antar mereka.
Ada empat hal yang mesti diperhatikan untuk menciptakan keharmonisan
rumah tangga.keempatnya adalah:
1. Jangan melihat ke belakang
Jangan pernah mengungkit-ungkit alasan saat awal menikah. "Kenapa saya
waktu itu mau nerima aja, ya? Kenapa nggak saya tolak?" Buang
jauh-jauh lintasan pikiran ini.
Langkah itu sama sekali tidak akan menghasilkan perubahan. Justru,
akan menyeret ketidakharmonisan yang bermula dari masalah sepele
menjadi pelik dan kusut. Jika rasa penyesalan berlarut, tidak tertutup
kemungkinan ketidakharmonisan berujung pada perceraian.
Karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini kita hadapi. Inilah
masalah kita. Jangan lari dari masalah dengan melongkok ke belakang.
Atau, na'udzubillah, membayangkan sosok lain di luar pasangan kita.
Hal ini akan membuka pintu setan sehingga kian meracuni pikiran kita.
2. Berpikir objektif
Kadang, konflik bisa menyeret hal lain yang sebetulnya tidak terlibat.
Ini terjadi karena konflik disikapi dengan emosional. Apalagi sudah
melibatkan pihak ketiga yang mengetahui masalah internal rumah tangga
tidak secara utuh.
Jadi, cobalah lokalisir masalah pada pagarnya. Lebih bagus lagi jika
dalam memetakan masalah ini dilakukan dengan kerjasama dua belah pihak
yang bersengketa. Tentu akan ada inti masalah yang perlu dibenahi.
Misalnya, masalah kurang penghasilan dari pihak suami. Jangan disikapi
emosional sehingga menyeret masalah lain. Misalnya, suami yang tidak
becus mencari duit atau suami dituduh sebagai pemalas. Kalau ini
terjadi, reaksi balik pun terjadi. Suami akan berteriak bahwa si
isteri bawel, materialistis, dan kurang pengertian.
Padahal kalau mau objektif, masalah kurang penghasilan bisa disiasati
dengan kerjasama semua pihak dalam rumah tangga. Tidak tertutup
kemungkinan, isteri pun ikut mencari penghasilan, bahkan bisa
sekaligus melatih kemandirian anak-anak.
3. Lihat kelebihan pasangan, jangan sebaliknya
Untuk menumbuhkan rasa optimistis, lihatlah kelebihan pasangan kita.
Jangan sebaliknya, mengungkit-ungkit kekurangan yang dimiliki.
Imajinasi dari sebuah benda, bergantung pada bagaimana kita meletakkan
sudut pandangnya.
Mungkin secara materi dan fisik, pasangan kita mempunyai banyak
kekurangan. Rasanya sulit sekali mencari kelebihannya. Tapi, di
sinilah uniknya berumah tangga. Bagaimana mungkin sebuah pasangan
suami isteri yang tidak saling cinta bisa punya anak lebih dari satu.
Berarti, ada satu atau dua kelebihan yang kita sembunyikan dari
pasangan kita. Paling tidak, niat ikhlas dia dalam mendampingi kita
karena Allah sudah merupakan kelebihan yang tiada tara. Luar biasa
nilainya di sisi Allah. Nah, dari situlah kita memandang. Sambil
jalan, segala kekurangan pasangan kita itu dilengkapi dengan kelebihan
yang kita miliki. Bukan malah menjatuhkan atau melemahkan semangat
untuk berubah.
4. Sertakan sakralitas berumah tangga
Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga
adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah. Padahal, kalau
menurut hitung-hitungan materi, berumah tangga itu melelahkan. Justru
di situlah nilai pahala yang Allah janjikan.
Ketika masalah nyaris tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah
itu kepada sang pemilik masalah, Allah swt. Pasangkan rasa baik sangka
kepada Allah swt. Tataplah hikmah di balik masalah. Insya Allah, ada
kebaikan dari semua masalah yang kita hadapi.
Lakukanlah pendekatan ubudiyah. Jangan bosan dengan doa. Bisa jadi,
dengan taqarrub pada Allah, masalah yang berat bisa terlihat ringan.
Dan secara otomatis, solusi akan terlihat di depan mata. Insya Allah!
sumber: dakwatuna.com
Banyak cara lahirkan sikap istiqamah.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Madaarijus Salikin menjelaskan, ada 6 faktor yang mampu melahirkan istiqamah dalam jiwa seseorang
1.
beramal dan melakukan optimalisasi. Allah berfirman "Dan berjihadlah
kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah
memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam
agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orangtuamu Ibrahim. Dia
(Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu dan
(begitu pula) dalam (Al Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi
atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia,
maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada
tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung
dan sebaik-baik Penolong" (QS al-Hajj:78)
2.
Moderat antara tindakan melampaui batas dan menyia-nyiakan. Allah
berfirman "Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka
tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu)
ditengah-tengah antara uang demikian" (QS al-Furqan:67).
Abdullah
bun Amr berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda "setiap amal memiliki
puncaknya dan setiap puncak pasti mengalami kefuturan (keloyoan). Maka
barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) kepada sunnahku, maka ia
beruntung dan barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) kepada
selain itu, maka berarti ia telah celaka" (HR Imam Ahmad)
3.
tidak melampaui batas yang telah digariskan. Allah berfirman "Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya
itu akan dimintai pertanggungjawaban" (QS al-Isra':36)
4. tak menyandarkan pada faktor kontemporal, melainkan bersandar pada sesuatu yang jelas
5.
ikhlas. Allah berfirman "Padahal mereka tidak disuruh melainkan sipaya
menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus" (QS
al-Bayyinah:5)
6.
mengikuti sunnah. Rasulullah SAW bersabda "Siapa di antara kalian yang
masih hidup sesudahku maka dia pasti akan melihat perbedaan yang keras,
maka hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para Khalifah
Rasyidin (yang lurus), gigitlah ia dengan gigi taringmu" (HR Abu Daud)
sumber: majalah Sabili No.12 TH.XIII 29 Desember 2005/27 Dzulqa'dah 1426
Wasiat Umamah binti al-Harits untuk putrinya Ummu Iyyas binti 'Auf pada malam pesta perkawinannya
wasiat 1 & 2: tunduklah kepada suami dengan penuh kerelaan, dengarkanlah dia dengan seksama, dan taatilah dia
wasiat
3 & 4: cermatilah arah pandangan mata dan ciuman hidung suami,
jangan sampai matanya memandang darimu sesuatu yang jelek, dan jangan
sampai dia mencium darimu melainkan wangi yang paling sedap
wasiat
5 & 6: cermatilah waktu tidur dan makannya, karena rasa lapar dapat
membakar amarah, sementara kekurangan dan terganggunya tidur akan
mendatangkan murka
wasiat
7 & 8: jagalah harta suami, peliharalah kehormatan dan wibawa
keluarganya. kunci keberhasilan dalam mengelola harta benda adalah
kecakapan menghitung dan kunci kesuksesan dalam keluarga adalah
kecakapan mengelola
wasiat
9 & 10: jangan sekali-kali melanggar perintahnya dan jangan
menyebarkan rahasianya, karena bila engkau melanggar perintahnya, maka
engkau telah menyempitkan dadanya, dan bila engkau menyebarkan
rahasianya, maka engkau telah mengkhianati amanatnya. dan jangan
sekali-kali engkau bersuka cita dihadapannya bila dia sedang bersedih,
dan jangan pula engkau menampakkan kesedihan dan wajah masam ketika dia
sedang gembira
sumber: Tips Menjadi Wanita paling Bahagia di Dunia: DR. Aidh al-Qarni
Ketika
mendirikan Shalat Subuh, cobalah untuk duduk dengan khusyuk dan
menghadapkan diri kearah kiblat selama sepuluh menit atau seperempat
jam, kemudian lanjutkan dengan memperbanyak dzikir & berdoa.
Mintalah kepada Allah hari yang indah, hari yang baik dan penuh
keberkahan, hari yang berbahagia, serta hari yang berisi kesuksesan,
kesalehan dan keberuntungan. Mintalah pada-Nya hari tanpa marabahaya,
krisis dan problematika. Dan hari yang rezeki-Nya dan kebaikan-Nya
berlimpah, perlindungan-Nya luas, atau hari yang tiada kekeruhan
didalamnya, yang tiada pula ada kegalauan dan kesedihan. Jadi, dari
sisi Allah lah segala kesenangan diminta, dan dari sisi-Nya pula rezeki
dimohonkan dan kebaikan dihaturkan. Duduk seperti ini, Insya Allah
merupakan jaminan persiapan untuk menjalani hari yang baik, hari yang
penuh dengan keberkahan dan manfaat.
sumber: Tips Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia : DR. Aidh al-Qarni
Hidup penuh ujian. Allah SWT berfirman bahwa Ia memberi ujian agar
mengetahui siapakah yang terbaik amalnya. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya
kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagimu,
agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka terbaik
perbuatannya." (QS. al-Kahfi: 17)
Sesungguhnya ritme ujian hidup tak ubahnya seperti ujian akhir yang
dihadapi para mahasiswa. Sebelum ujian tiba, mahasiswa harus mengikuti
perkuliahan reguler dengan tekun dan menyimak apa yang diajarkan dosen
agar mendapat ilmu yang bermanfaat dan lulus ujian. Mahasiswa yang
terbaik persiapan belajarnya, maka niscaya akan mampu menghadapi ujian
itu dengan baik pula. Suka atau tidak, mahasiswa harus menghadapinya,
sehingga wajib baginya untuk menyiapkan perbekalannya, sebelum,
menjelang, saat dan sesudah ujian. Demikian pula seorang muslim, ia
harus menyiapkan bekal untuk menghadapi ujian hidup agar sukses
memasuki surga.
Sebelum Ujian Tiba
Setidaknya ada 5 hal yang harus disiapkan seorang muslim sebelum menghadapi ujian hidupnya, yaitu :
1. Kenali sang pemberi ujian, Allah SWT.
Sebagai mahasiswa, kita harus mengenali tipe dosen yang mengajar dan
mengetahui cara mengajarnya, pun dalam memberikan nilai. Apa yang
dinilai dan bagaimana ia menilai. Seorang dosen tentu memiliki bobot
penilaian sekian persen untuk nilai uts, uas, kehadiran, quiz dan
tugas.
Allah SWT memiliki 99 asmaul husna. Rasulullah SAW bersabda, �Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.(Artinya,
mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu).� (HR. Bukhari). Ia
Maha Pengasih dan Penyayang, tetapi jangan lupa, Ia juga Maha Keras
Siksanya.
2. Simak apa yang diajarkan sang pemberi ujian
Dosen biasanya memberi kisi-kisi ketika mendekati ujian, bahkan jauh
hari, saat tengah mengajar, dengan kata-katanya, �Catat ini, karena
biasanya akan keluar dalam soal ujian.� Kisi-kisi ujian itu difirmankan
Allah SWT, �Sungguh
akan Kami berikan cobaan kepadamu, dan sedikit ketakutan, penyakit,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah
berita gembira kepada orang-orang yang sabar ". (QS. Al Baqarah : 153 )
3. Banyak latihan
Mahasiswa harus berlatih dengan mengerjakan soal-soal dan banyak membaca. Ini akan memudahkan ketika menghadapi ujian.
Seorang muslim pun demikian, ia harus menempa dirinya dengan ibadah
harian, dan tidak memanjakan diri dengan kesenangan duniawi. Orang
beriman, mereka telah dilatih oleh-Nya untuk hanya bergantung pada-Nya
melalui shalat, doa dan zikir. Mereka dilatih untuk hidup Zuhud (dunia
ditangannya namun tidak di hati) melalui zakat, infaq dan shodaqoh.
Mereka dilatih untuk bersabar, menahan hawa nafsu melalui puasa. Mereka
dilatih untuk bersatu antar sesamanya, kaum mu'minin, melalui haji.
Semua itu adalah bekal untuk mempersiapkan pejuang sejati.
4. Jangan absen untuk menghadap-Nya.
Mahasiswa absen lebih dari 4 kali di kelas? Dapat dipastikan, tidak akan bisa mengikuti ujian akhir.
Shalat wajib Anda tinggalkan? Maka kesempatan untuk berkompetisi hilang sudah. Shalat adalah tiang agama. �Yang
pertama-tama dipertanyakan (diperhitungkan) terhadap seorang hamba pada
hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang shalatnya. Apabila
shalatnya baik maka dia beruntung dan sukses dan apabila shalatnya
buruk maka dia kecewa dan merugi.� (HR. Annasa�i dan Attirmidzi)
5. Kerjakan tugas-tugas dari Allah SWT.
Dosen memberi tugas? Kerjakan, karena jika tidak, kita tidak akan bisa mendapat nilai A.
Apa yang ditugaskan Allah SWT pada kita?
�Dan hendaklah ada diantara kamu orang-orang yang mengajak kepada
kebaikan, dan menyeru kepada yang ma�ruf dan mencegah dari yang munkar.
Dan merekalah orang-orang yang beruntung.� (QS. Ali Imran: 104)
�Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.� (QS. An-Naml : 120)
6. Bertanya jika ada yang tidak diketahui.
Mahasiswa belajar sendiri, mungkin bisa saja dilakukan, namun belum
tentu sempurna hasilnya karena terkadang ada catatan yang tak lengkap
atau ada ilmu yang diketahui teman, tetapi tak diketahui oleh kita.
Bertanya, adalah kunci pembuka ilmu.
Seorang muslim dapat saja belajar sendiri dengan membaca buku-buku
Islam, tetapi ia tetap harus bertanya pada teman yang lebih paham
ataupun kepada para ulama. " Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui."(QS.16 : 43)
Menjelang Ujian
Waktu ujian tengah semester maupun akhir semester, telah ditetapkan
waktunya. Dalam hidup, tidak bisa tidak, cepat atau lambat, ujian pasti
terjadi. Ada 4 hal yang harus dipersiapkan ketika ujian semakin dekat,
yaitu :
1. Persiapkan ilmu, analisa ujian
Analisa ujian yang dihadapi, jangan reaktif. Siapkan jurus-jurus untuk menghadapi ujian, karena setiap soal berbeda bobotnya.
Bekal ilmu untuk menghadapi ujian hidup, sangat penting. Dengan ilmu,
kita dapat mengetahui mana jalan yang diridhai-Nya dan mana yang tidak.
�Sedikit
ilmu lebih baik dari banyak ibadah. Cukup bagi seorang pengetahuan
fiqihnya jika dia mampu beribadah kepada Allah (dengan baik) dan cukup
bodoh bila seorang merasa bangga (ujub) dengan pendapatnya sendiri.� (HR. Athabrani).
2. Belajar dari soal-soal sebelumnya
Mahasiswa harus rajin mencari foto kopi soal di semester sebelumnya, karena soal ujian biasanya mirip.
Pelajarilah ujian yang dihadapi para nabi, ambil hikmah dari setiap
ujian. Bagaimana ending penderitaan yang dialami para nabi? Semuanya
ada di dalam Al Qur�an. "Apakah
kamu mengira akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (ujian)
seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kami. Mereka
ditimpa kemelaratan, penderitaan, diguncang (dengan berbagai cobaan).
Sehingga Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata,
"Kapankah datang pertolongan Allah?" Ingatlah sesungguhnya pertolongan
Allah itu dekat." (QS. al-Baqarah: 214)
3. Belajar dari buku wajib dan buku tambahan
Ada buku wajib kampus dan buku tambahan.
Buku wajib seorang muslim adalah Al Qur�an dan Hadits. Dan untuk buku
tambahan adalah buku-buku Islam kontemporer agar wawasan bertambah. �Aku
tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama
berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur�an) dan sunnah
Rasulullah saw.� (HR. Muslim).
4. Berdoa
Berdoalah kepada Allah SWT semoga Ia memudahkan dalam mengerjakan soal-soal ujian.
Senjata orang-orang beriman adalah doa. �Doa adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi.� (HR. Abu Ya�la)
Saat Ujian
1. Hadapi dengan tenang dan sabar.
Saat memasuki ruang ujian, hadapilah dengan tenang dan sabar, jangan tergesa-gesa.
Pun di dalam menghadapi ujian hidup, wajib sabar ketika ujian itu datang. Rasulullah SAW bersabda, �Sabar yang sebenarnya ialah sabar pada saat bermula tertimpa musibah.� (HR. Al Bukhari)
2. Konsentrasi pada soal ujian, jangan curang.
Soal telah dibagikan. Konsentrasilah pada soal ujian dan jangan coba-coba menyontek!
Saat ujian datang, seorang muslim jangan justru lari dari-Nya dengan
cara bermaksiat kepada-Nya. Berapa banyak kita saksikan manusia yang
ditimpa ujian dan cobaan, bukannya mendekat kepada-Nya, tetapi justru
bermaksiat dengan lari dari jalan da�wah ataupun memisahkan diri dari
barisan. "syaghalatna amwaluna waahluna : kami telah dilalaikan oleh harta dan keluarga" (QS. 48:11)
3. Selesaikan yang mudah dahulu.
Menghadapi ujian dari dosen, membutuhkan strategi, jangan mengerjakan soal-soal yang sulit dahulu, tetapi kerjakan yang mudah.
Jangan memasuki bidang ujian yang kita tidak mampu memasukinya. Rasulullah SAW bersabda, �Tidak
semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya,
�Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?� Nabi saw menjawab,
�Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan
menderitanya.�(HR. Ahmad dan Attirmidzi)
4. Jangan mengeluh bila soalnya sulit.
Ujian kita sangat sulit? Jangan mengeluh. Karena percuma saja, toh ujian tak akan selesai dengan keluhan.
Seorang muslim janganlah sampai mengeluh ketika ujian menimpa, karena Rasulullah SAW bersabda, �Ada
3 hal yang termasuk pusaka kebajikan, yaitu merahasiakan keluhan,
merahasiakan musibah dan merahasiakan sodaqoh (yang kita keluarkan).� (HR. Athabrani).
Sesudah Ujian
1. Evaluasi
Apakah ujian itu dapat kita lalui dengan baik? Ucapkan hamdalah bila
berhasil melaluinya. Seorang muslim ketika telah melewati ujian berupa
penderitaan dan kesedihan, hendaknya tetap istiqomah di jalan-Nya. Dari
Abu Hurairah ra katanya, sabda Rasulullah saw, �Tidak disengat seseorang mukmin itu dua kali dalam satu lubang.�
2. Ambil hikmahnya.
Ada hikmah di setiap kejadian. Karena khasanah kebaikan kembali kepada-Nya. Bahkan ketika tertusuk duri, ada hikmahnya. �Tiada
seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah
mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa.� (HR. Al Bukhari)
3. Bersiap menghadapi ujian selanjutnya.
Ujian mahasiswa tentu tidak hanya satu mata kuliah, tetapi ada beberapa macam.
Selama hayat masih dikandung badan, maka bersiaplah menghadapi ujian-ujian yang beraneka ragam bentuknya. �Apakah kamu mengira kamu akan dibiarkan saja mengatakan �kami beriman� sedang mereka tidak di uji lagi?� (QS. Al Ankaabut: 2-3)
Untuk Apa Ujian Itu?
Untuk apakah ujian itu Allah SWT berikan kepada hamba-hamba-Nya?
Ujian adalah sunnatullah dari Allah untuk memisahkan orang-orang
munafik dari barisan orang-orang beriman, memisahkan antara loyang
dengan emas. �Allah
menguji hamba-Nya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji
kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni.
Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang
dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar
seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Athabrani)
Ujian adalah tarbiyah dari Allah untuk meningkatkan derajat hamba-Nya, sebagai wujud kasih sayang-Nya. �Seorang
hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat
mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan
mencobanya agar dia mencapai derajat itu.� (HR. Athabrani).
Ujian adalah sunntullah untuk orang-orang yang berada di jalan Al Haq.
Jika kita tidak merasakan adanya ujian yang berat, maka patut
dipertanyakan apakah jalan yang kita lalui adalah jalan yang benar.
Saad bin Abi Waqqash berkata, �Aku
bertanya kepada Rasulullah saw, �Ya Rasulullah, siapakah orang yang
paling berat ujian dan cobaannya?� Nabi saw menjawab, �Para nabi
kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai)
mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya tipis
(lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia
diuji sesuai itu (keras). Seroang diuji terus-menerus sehingga dia
berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Al Bukhari)
Dalam menghadapi ujian, seorang mu�min harus selalu berprasangka baik kepada Tuhannya. �Besarnya
pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah
�Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka.
Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa
murka maka baginya murka Allah.� (HR. Attirmidzi).
Allah SWT menghibur orang-orang beriman dalam menghadapi ujian dengan firman-Nya, �Dan
janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati,
padahal kamulah orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu
orang-orang yang beriman.� (QS. 3 : 139).
Penutup
Ujian hidup tidak selamanya berbentuk penderitaan dan kesedihan hati,
tetapi bisa juga dalam bentuk kenikmatan dan kesenangan. Bila ujian itu
dalam bentuk kesenangan, apakah sang hamba dapat bersyukur? Bila dalam
penderitaan, apakah sang hamba bersabar? Syukur dan sabar adalah
keistimewaan orang-orang yang beriman, yang dikagumi oleh sang nabi.
Surga memiliki kriteria (muwashofat) untuk orang-orang yang akan
memasukinya. Nilai A, B, C, D, atau E, adalah hak prerogatif Allah SWT.
Tugas manusia adalah berdoa, berikhtiar dan bersabar. Dan tentu saja,
untuk mengetahui apakah kita benar-benar lulus atau tidak, jawabannya
ada di hari akhir nanti.
Lulus ujian, akan menaikkan derajat kita di sisi-Nya dan tiada lain
balasannya adalah ridha-Nya, surga-Nya, dan bidarari yang bermata jeli.
Allah SWT berfirman, �Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik." (QS. Al Waqiah : 22-23). Bidadari menantimu, akh� Selamat ujian. (Ayat al akrash)
Di waktu ujian badai terus melanda
Engkau tetap gigih berjuang
Membenarkan sabda junjungan
Terus memburu menuntut janji,
Pastilah Islam gemilang lagi
Ujian bukan batu penghalang
Karena itulah syarat dalam berjuang
Ujian adalah tarbiyah dari Allah
Apakah kita kan sabar ataupun sebaliknya
- The Zikr -
sumber: Hudzaifah.org
Seseorang lelaki bertanya kepada Abu Hazim
- : bagaimana cara mata bersyukur, wahai Abu Hazim?
+ : jika engkau melihat kebaikan kedua matamu, engkau menceritakannya dan jika yang ada keburukan,engkau merahasiakannya
- : bagaimana kedua telinga bersyukur?
+ : jika mendengar yang baik, engkau sadar dan jika telingamu mendengar yang buruk, engkau menolaknya
- : bagaimana pula syukur kedua tangan?
+ : jangan mengambil sesuatu yang bukan hak kedua tanganmu dan jangan menghalangi hak Allah pada keduanya
- : bagaimana pula perut bersyukur?
+ : hendaknya engkau mengisi bagian bawah perutmu dengan makanan dan bagian atasnya ilmu
- : bagaimana pula syukur kemaluan?
+ : Allah SWT berfirman: "dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
kecuali terhadap istri-istri mereka, atau budak yang mereka miliki maka
sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. barang siapa yang
mencari dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas
(Al-Mu'minun [23]:5-7)"
- : lalu bagaimana syukur kedua kaki?
+ : jika ia datangi orang mati, ia mencontoh amal baiknya dan menjauhi
amal buruknya. dengan demikian engkau telah bersyukur kepada Allah
Sumber: Indahnya Sabar;Bekal Sabar Agar Tidak Pernah Habis -Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah
Sabda Rasulullah S.A.W : "Barang siapa hafal tujuh kalimat, ia
terpandang mulia di sisi Allah dan Malaikat serta diampuni dosa-dosanya
walau sebanyak buih laut."
1. Mengucap Bismillah pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.
2. Mengucap Alhamdulillah pada tiap-tiap selesai melakukan sesuatu.
3. Mengucap Astaghfirullah jika lidah terselip perkataan yang tidak patut.
4. Mengucap Insya-Allah jika merencanakan berbuat sesuatu di hari esok.
5. Mengucap "La haula wala kuwwata illa billah" jika menghadapi sesuatu tak disukai dan tak diingini.
6. Mengucap "inna lillahi wa inna ilaihi rajiun" jika menghadapi dan menerima musibah.
7. Mengucap "La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah" sepanjang siang dan malam sehingga tak terpisah dari lidahnya.
[dari tafsir hanafi]
sumber: Hudzaifah.org
| |